Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Speeches Shim

Indonesia merupakan produsen makanan laut terbesar kedua di dunia. Tapi penangkapan ikan yang berlebihan dan praktik destruktif lainnya membahayakan produktivitas perikanan Indonesia. Untuk mempertahankan perikanan yang produktif dan menguntungkan, Amerika Serikat dan Indonesia bermitra untuk meningkatkan kesehatan ekosistem laut.

Industri perikanan Indonesia mempekerjakan lebih dari 7 juta orang.Amerika Serikat masih merupakan salah satu pasar tujuan utama untuk ekspor kelautan Indonesia termasuk ikan kakap-kerapu, dengan hasil tangkapan sekitar 80.000 ton/tahun. Ekosistem laut yang sehat dan dikelola dengan baik akan memastikan Indonesia memiliki pasokan ikan yang berkelanjutan dan pendapatan tetap bagi para nelayan.

PROGRAM SUPPORTING NATURE AND PEOPLE-PARTNERSHIP FOR ENDURING RESOURCES (USAID SNAPPER)

USAID SNAPPER mendukung upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP) dalam memastikan keberlanjutan perikanan laut dalam di Indonesia. Program ini melibatkan peran serta masyarakat dan perusahaan perikanan untuk mencegah penangkapan ikan berlebihan dan meningkatkan implementasi peraturan perikanan, misalnya dengan membatasi jumlah kapal yang diizinkan untuk menangkap ikan di daerah tertentu dalam waktu tertentu. Melalui Global Development Alliance, USAID bermitra dengan David and Lucile Packard Foundation serta Walton Family Foundation untuk bersama-sama mendukung pendanaan USAID SNAPPER

USAID SNAPPER juga memberikan pelatihan dan insentif untuk mendorong perusahaan perikanan agar sukarela melakukan langkah-langkah keberlanjutan. Hal ini termasuk membatasi ukuran panjang minimum ikan yang diperdagangkan, dengan tujuan untuk menurunkan permintaan ikan yang belum dewasa, dan memberi kesempatan lebih banyak bagi ikan untuk berkembang biak. Saat ini USAID SNAPPER bekerja sama dengan 15 mitra swasta untuk meningkatkan keberlanjutan perikanan kakap dan kerapu laut dalam.

Selain itu, USAID SNAPPER bekerja di berbagai daerah di Indonesia untuk memantau perikanan dan kesehatan stok 50 jenis ikan kakap dan kerapu. Program ini mendukung para nelayan di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan dengan menempatkan pelacak di kapal nelayan dan secara teratur mengirimkan foto hasil tangkapan untuk analisis. Kemudian KKP menggunakan data tersebut untuk mengkaji kondisi perikanan untuk mendukung pengelolaan perikanan kakap-kerapu yang berkelanjutan. HASIL

Hingga saat ini, USAID SNAPPER telah:

  • Membantu KKP meningkatkan pengelolaan sumber daya alam di 26,5 juta hektar kawasan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.
  • Melatih lebih dari 900 orang untuk mengumpulkan data hasil tangkapan, ukuran, dan jenis kakap dan kerapu.
  • Memperluas program pengumpulan data tangkapan di laut untuk menghasilkan data berkualitas mengenai stok 50 spesies ikan kakap-kerapu dari sembilan menjadi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia.
  • Mengembangkan database inovatif dan sistem pelaporan yang telah diadopsi oleh KKP, untuk mendukung pengelolaan perikanan kakap-kerapu laut dalam.
  • Mendukung KKP dalam penyusunan rencana pengelolaan dan strategi penangkapan untuk perikanan kakap dan kerapu laut dalam.
  • Membantu KKP dalam penyusunan Peraturan Menteri terkait Lembaga Pengelola Perikanan, kebijakan yang meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan untuk memperkuat rencana pengelolaan perikanan.
  • Mendukung program peningkatan perikanan bersama enam perusahaan perikanan untuk menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan. Keenam perusahaan tersebut memberikan komitmennya untuk berbagi data rantai pasokan dan membatasi pembelian ikan yang belum desa hingga maksimal lima persen untuk mendapatkan sertifikasi Marine Stewardship Council.

Last updated: April 29, 2022

Share This Page